Catatan Kecil Makassar – Toraja

“Perjalanan Makassar – Toraja”

  1. A.     Wilayah kabupaten Barru, Pangkep dan Pare -Pare

Perjalanan dari kota Makassar Menuju Tanah toraja melewati Jalan trans sulawesi (jalan utama yang menghubungkan antara kota satu dengan kota lainnya di seluruh tubuh Pulau Sulawesi). Dari Makasar  ke Toraja terdapat beberapa wilayah Kabupaten yang menawarkan pemandangan alam yang mengaggumkan, misalnya saja sepanjang Kabupaten Barru dan Pangkep dimana kita bisa menikmati deretan bukit bukit karst (gamping) dan di balik bukit-bukit kapur itu, menjulang tinggi Gunung Bawakaraeng, yang puncaknya selalu tertutup awan. Kawasan ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai tempat istirahat yang bebas dari kebisingan kota dan gangguan masyarakat.

Kurang lebih 70 kilometer ke arah utara Kota Makassar (Sulsel) terdapat wilayah kecamatan yang tekstur perkampungannya masih kuat karena terdapat banyak rumah-rumah panggung berdiri di sepanjang jalannya, kecamatan ini bernama segeri (Kab pangkep). Kecamatan ini juga mudah ditandai karena sepanjang jalan poros Segeri banyak berjejer penjual penganan khas bernama dange. Kecamatan ini juga mempunyai potensi wisata budaya sebab di wilayah inilah dikenal sebuah komunitas bissu yang disebut sebagai ‘Bissu Dewatae’.

Catatan tambahan :

  • Memasuki wilayah pantai Kabupaten pare pare terdapat sebuah objek yang unik yaitu pohon kelapa bercabang 5
  • Wilayah Barru, Pangkep dan Pare sangat berpotensi untuk pengembangan wisata bahari

 

  1. B.     Wilayah kabupaten Sidrap (Sidendreng – Rappang)

Secara geografis Kabupaten Sidenreng Rappang terletak dijalur lintasan tujuan daerah wisata yang utama di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Tanah Toraja (Tator), sehingga Kabupaten ini sangat besar peluang untuk menarik wisatawan untuk singgah. Kabupaten ini merupakan daerah penghasil beras. Memang sepanjang wilayah Sidrap kita akan banyak menjumpai hamparan sawah di sisi kanan dan kiri jalan. Pengembangan sektor Pertanian tanaman pangan ini memberikan suatu peluang bagi Kabupaten Sidenreng Rappang, yang perekonomiannya berbasis pada sector pertanian, yaitu  pengembangan potensi agro wisata di sidrap. Selain itu telah terdapat sebuah objek wisata lokal yaitu Taman rekreasi Datae. Lokasinya berada di perbukitan Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watangpulu, atau poros Makassar-Sidrap, sekitar 17 km dari kota Pangkajene, Sidrap. Taman rekreasi ini berlatar belakang pegunungan dan terdapat bangunan-bangunan rumah adat.

  1. C.     Wilayah Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang terletak kurang lebih 200 Km sebelah utara kota Makassar. Kabupaten ini pada umumnya mempunyai wilayah Topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, dan sungai . Daerah pegunungan enrekang yang cantik mempunyai daya tarik tersendiri sebagai jalur lintasan menuju Toraja. Dari pegunungan di Enrekang kita juga dapat melihat bentangan sungai yang mengalir di bawahnya. Sungai saddang adalah salah satu sungai di Kabupaten enrekang, Sungai ini mengalir hingga ke tanah toraja bahkan ke arah Pollewali mandar (polman) Prov Sulbar. Sungai Saddang juga memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata alam dan olah raga air. Ketika melintasi Kabupaten Enrekang yang didominasi area pegunungan ini menuju toraja, kita akan melewati sebuah kebun raya (botanical garden) yaitu kebun raya enrekang yang terletak di Desa Batu Mila Kec. Maiwa Kabupaten Enrekang. Kebun Raya Enrekang dapat ditempuh dengan 5 Jam Perjalanan darat dari kota Makassar.

“Kabupaten Tanah Toraja”

  1. A.     Desa Sillanan

Sillanan adalah sebuah perkampungan adat tua masyarakat Toraja (menurut pak rante sillanan telah dihuni semenjak tahun 1036 atau sekitar 976 tahun yang lalu). Secara administratif, perkampungan ini masuk ke wilayah Dusun Tondon Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Warga Desa silanan sebahagian besar berprofesi sebagai petani kopi dan menurut narasumber sebelum masuknya agama orang orang toraja menganut paham animisme dan kepercayaan asli tersebut bernama Parandangan.Di tempat ini terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batu, diantaranya ada berupa menhir perjanjian antara raja bone yang bernama Aruntapo dengan orang orang Toraja yang berisi perdamaian antara Bone – Toraja. Beberapa rumah tongkonan dan alang (lumbung padi) yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini, bahkan menurut pak rante di sillanan ini masih ada rumah pertama orang Toraja yang di sebut rumah di tokke’ atau rumah yang mengambang. Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “tongkon” yang berarti duduk. Tongkonan merupakan rumah yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan.

???????????????????????????????

Di desa Sillanan juga terdapat peninggalan sejarah berupa benteng Pertahanan Silanan yang bernama Tangdi Rompo di puncak bukit batu Silanan.Benteng ini menurut Pak rante terbuat dari batu gunung asli yang disusun rapi. Benteng-benteng ini digunakan masyarakat Silanan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, baik saat perang antar suku di Toraja maupun perang-perang melawan  pasukan dari luar Toraja termasuk Belanda. Untuk mencapai lokasi benteng ini harus menempuh satu hari satu malam berjalan kaki dari desa sillanan.

Bubunna tintiri buntu (Sumur Gunung Tintiri), Di Sillanan juga terdapat sebuah Sumur adat untuk mengambil air suci, usianya diperkirakan sama dengan usia perkampungan adat tua Silanan. Sumur adat yang juga berfungsi sebagai obat ini, kata pak Rante, tidak pernah kering meskipun wilayah Toraja dan sekitarnya dilanda musim kemarau panjang. Sumur ini mempunyai kisah-kisah magis tersendiri, Menurut Cerita pak Rante konon terdapat seekor belut raksasa dibawah sumur ini dan simbol wanita yang terdapat dimur ini diyakini sebagai penjaga sumur tersebut, bahkan si pembuat patung wanita tersebut sampai meninggal dan kehilangan keturunannya karena memahat wajah wanita penjaga sumur gunung tintiri ini.

Catatan tambahan :

  • Di desa sillanan terdapat 4 buah fasilitas penginapan (home stay) bagi para pengunjung.
  • Terdapat sitem yang menarik ketika masyarakat sillanan menentukan pemukiman, mereka selalu menempatkan Liang / kuburan di sebelah baratnya, dan rante / atau tempat pelaksanaan upacara kematian di sebelah timurnya dan di tengah-tengahnya adalah pemukiman.
  • Ada sebuah pernyataan menarik yang diungkapkan oleh pak rante ketika ditanyakan kenapa orang-orang toraja memilih dimakam pada gua gua dalam tebing, katanya seseorang pernah bermimpi bahwa dari sana mereka langsung bisa pergi kelangit
  • selain menggunakan liang untuk penguburan juga terdapat patane’ yang merupakan kuburan yang berbentuk rumah tanpa jendela dengan pintu yang tidak boleh menyentuh tanah karena disanalah mereka menyiratkan simbol perbedaan alam manusia dan ruh.

 

  1. B.     Referensi olah raga tradisional/non tradisional yang dapat dikembangkan dalam item festival toraja (diskusi bersama agus Lamba)

???????????????????????????????

  • Sepak takraw
  • Arung jeram di sungai maiti yang merupakan batas makalle dengan rantepao
  • Paket lintas alam dengan 1 tim sebanyak 7 orang. Sebelumnya Agus lamba pernah mengelola kegiatan lintas alam dengan peserta mencapai 30 tim
  • Permainan pada saat perayaan / syukuran ; Sisemba’ (sepak kaki) dan sisamba’ (permainan cambuk cambukan menggunakan lidi)
  • Sepeda : Mountain bike dan fun Bike di wilayah mengkendek
  1. PA’POMBANG/PA’BAS (catatan dari perayaan natal di gereja toraja)
    ???????????????????????????????
    Inilah musik bambu yang dimainkan seperti satu simponi orkestra dan dipimpin satu orang dirigen. Dimainkan oleh banyak orang dari segala jenis usia dalam satu kelompok. Musik bambu jenis ini sering diperlombakan pada perayaan perayaan seperti HUT proklamasi, HUT Tanah Toraja, natal dll.Musik bambu ini bisa membawakan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah Tana Toraja, serta lagu-lagu gereja. Musik bambu ini sangat berpotensi digarap sebagai large wind orchestra dengan musik bambu toraja.

 

  1. D.    Museum Buntu kalando

Museum Buntu Kalando terletak di atas bukit Sangalla. Merupakan bekas istana Puang (raja) Sangalla . Di depan museum terdapat lima lumbung padi sebagai ciri istana/rumah adat Toraja.

Dalam bahasa Toraja, buntu berarti batu dan kalando berarti bukit

Lokasinya cukup luas, terdiri dari satu bangunan Tongkonan induk dan beberapa bangunan lumbung padi (alang) di depannya. Di sisi kiri dan kanan bangunan Tongkonan, juga ada bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal.

???????????????????????????????

Museum Buntu Kalando sendiri adalah sebuah kompleks permukiman, yang pada zaman dahulu digunakan sebagai istana raja Sangalla. Bangunan Museum ini bercorak sangat tradisonal. Beberapa koleksi museum Buntu Kalando antara lain :

  • Manik manik prasejarah
  • Gelang gelang perak
  • Lesung batu
  • Mata uang logam dan uang kertas asing
  • koleksi keramik yang berasal dari Cina dan jepang
  • peti barang yang terbuat dari anyaman rotan dan kayu, berbentuk bulat
  • kain tradisional, pakaian adat Sangalla
  • koleksi pakaian dan peralatan perang
  • Koleksi alat alat kesenian seperti suling, gendang, kecapi, Pakesso kesso dll

Catatan tambahan :

Kondisi Museum ini cukup memprihatinkan, pengelolaannya pun perlu mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah daerah.

  1. LONDA

Objek wisata Londa terletak di desa Sandan Uai. Londa adalah kuburan yang berupa gua alam. Kuburan ini terdapat pada sisi batu karang terjal , salah satu sisi dari kuburan itu berada di ketinggian dari bukit yang mempunyai gua yang dalam dimana peti-peti mayat di atur dan di kelompokkan berdasarkan garis keluarga. Londa berwujud sebuah tempat pemakaman dari bebatuan kapur dimana terdapat banyak deretan tau-tau / orang orangan di sepanjang dasar dinding bukit sementara tulang dan tengkorak serta erong / peti banyak berserakan di dinding dalam goa. Menurut narasumber (pak tato) semenjak tujuh ratus tahun lebih  Londa telah digunakan sebagai makam. Disini juga terdapat erong yang telah berusia 400 tahun.

Menurut adat Tana Toraja, setiap jenasah di Goa Londa yang dimakamkan melalui upacara adat tertinggi akan dibuatkan replikanya dalam bentuk patung yang dinamakan tau-tau lengkap dengan pakaian adat Toraja sedangkan mayatnya disemayamkan dalam peti mati khas yang disebut erong. Seringkali juga pada tau-tau disertakan benda kesayangan dari sang mendiang, seperti makanan, rokok dan sebagainya. Posisi erong pun dibedakan menurut status sosialnya. Semakin tinggi letak erong pada dinding gua semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat Tana Toraja.

???????????????????????????????

Pak tato sempat menceritakan tentang sepasang tulang belulang laki laki dan perempuan (lobo dan andui) yang gantung diri bersama karena hubungan mereka berdua tidak direstui keluarga sebab mereka masih sepupu dekat

Catatan tambahan :

  • Untuk bayi yang belum memiliki gigi akan dimakamkan didalam pohon atau digantung dengan tali disisi tebing
  • Di londa adalah pemakaman khusus untuk 1 marga saja yaitu marga Tolengke.
  • Lemo adalah kuburan batu yang dipahat
  • Batu tumonga adalah batu batu yang di jadikan tempat pemakaman.

Catatan tambahan :

  • Terdapat juga kekhawatiran mengenai bangunan bangunan jika pembangunannya tdk ditata sedemikian rupa maka akan menggangu spot untuk menikmati pemandangan alam toraja
  • Beberap ritual penting dalam suku toraja sangat bergantung dengan matahari, misalnya kawinan,sukuran itu pelaksanaannya pada saat matahari menanjak (Rambu tuka) sementara upacara kematian dilaksanakan pada saat matahari menukik ke bawah (rambu solo)

Izat Gunawan, dan dari berbagai sumber

By iziydenarbeideran Posted in journey

TENTANG FESTIVAL BUNYI BUNGI

FESTIVAL BUNYI BUNGI 2013,

Mengeksekusi Mimpi dan Geliat Ekspresi

 

  1. A.   Semacam Pengantar FBB 2013

Nilai ekspresi  yang dikandung oleh sebuah karya seni menjadi nilai yang kemudian mampu bertindak sebagai pembeda antara kreator seni yang satu dan yang lainnya. Sedikit berbeda dengan proses pencapaian estetika karya seni yang memang menuntut persepsi serta daya nalar sebagai alat ukur menuju titik estetika itu sendiri, pada sisi ekspresi bukan konsep pemikiran yang memainkan “peran utama” melainkan emosi, atau sebutlah dia sebagai intusi. Situasi inilah yang memicu perbedaan perbedaan karya sekalipun dia berdasar pada kaidah estetika yang sama. Sebab Peranan ekspresi seorang pengkarya akan sangat menentukan sejauh mana pengembaraan penafsiran dia terhadap dasar gagasan maupun azas estetik yang ingin dicapai.

Dalam perkembangan kesenian modern kita sering menemukan realita bahwa kebebasan ekspresi begitu disanjung dan sangat menonjol, bahkan kaidah  kaidah estetik lama tidak lagi digunakan seutuhnya sebab dalam proses kreatif yang dijalani, kreator lebih cenderung dapat menemukan kaidah estetis yang dianggap lebih sesuai dengan garapannya. Lewat pertimbangan pertimbangan yang berawal dari subjektivitas individu pengkarya inilah kemudian lahir patron patron baru dalam pengkaryaan. Tak perlu sedini mungkin menjadi teori teori yang mengandung inovasi dan universal, yang jelas kebebasan ekspresi sangat memungkinkan menjadi pemicu bergulirnya pembaharuan metode dalam menciptakan karya.

Barangkali yang perlu kita camkan bahwa seliar apapun eksperimentasi dalam proses penciptaan akan lebih bijak jika dia tetap berpijak pada akarnya. Menafsir ungkapan ini akan menempatkan kita pada posisi yang unik, dimana rasa bijak dan liar bercampur satu dalam diri kita. Saya menyebutnya sebagai “kebebasan yang arif”. Persoalan takaran mana yang akan mendominasi rasa dalam karya kita, itu akan bergantung lagi pada tekhnis,cara pandang serta kebutuhan kita terhadap dua hal tersebut ; Bijak dan Liar. Sekali lagi tak ada alat yang mampu mengukur tentang tepat atau tidaknya emosi seni, sebab itulah saya lebih bersepakat bahwa tak ada salah benar dalam pencipataan (baik metode maupun hasil). Satu satu nya kesalahan adalah ketika kita sudah mengangkat bendera putih kemudian berkata “saya pensiun berkarya” atau “saya adalah veteran panggung”.

  1. B.   TENTANG VESTIVAL BUNYI BUNGI

          (Kesenian, Pemuda dan Lokalitas)

Kesenian dalam bentuk pertunjukan maupun rupa merupakan media efektif untuk mengasah segala bentuk kecerdasan emosi yang memang hakikinya telah dimiliki oleh setiap manusia termasuk para generasi muda. Menyoal kaum muda, mereka adalah generasi yang cenderung memiliki potensi emosi yang agresif bahkan labil. Potensi emosi tersebut kemudian akan menjadi dasar bagi setiap gerakan gerakan dan lompatan pemuda. Dengan situasi ini, maka yang dibutuhkan sesungguhnya adalah media pengarah agar gerakan dan lompatan yang dicerminkan lewat pola laku ini dapat tertuju pada  hal-hal yang mempunyai spirit positif. Kesenian adalah salah satu hal yang dapat menjawab tantangan ini dengan riil, sebab untuk melahirkan karya dalam kesenian tidak hanya dituntut sebatas kemampuan individu secara tekhnis dalam mengolah dirinya untuk memenuhi kebutuhan keterampilan namun juga bagaimana kemudian setiap kelompok maupun individu memiliki kemampuan konseptual dalam mendeskripsikan dan menuangkan gagasannya kedalam betuk karya. Spesifiknya, bahwa fungsi seni adalah  menjadi media cerna kehidupan sekitar bagi para pekerjanya.

Sifat kesenian yang mengandung unsur dinamisasi yang begitu tinggi juga akan mengajarkan bagi setiap pelakunya untuk terus melakukan penafsiran serta pemaknaan terhadap setiap jengkal arus globalisasi, Sifat dinamis ini jugalah yang tidak pernah membuat kesenian statis dalam satu bentuk baku karena diakibatkan oleh kedalaman kreatifitas pekerja seni itu sendiri. Kreatifitas tidak akan mengenal siapa, dimana dan berapa jumlah orang orang yang melakukan prosesnya. Dia akan datang bagi setiap orang yang menginginkan dia untuk datang. Kemauan dan kesadaran untuk mengembangkan kreatifitas inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran kami untuk menggagas sebuah peristiwa kebudayaan lewat moment moment kesenian yang bersandar pada nilai lokalitas.

Bungi dalam defenisi lokal masyarakat kaili berarti sebuah daratan yang terbentuk karena surutnya air sungai lalu kemudian lahan tersebut difungsikan sebagai area perkebunan tradisional,tambang pasir bahkan pemukiman penduduk. Secara geografis wilayah kabupaten Sigi hingga kota palu terbelah oleh aliran sungai dan anak anak sungai, ketika tiba musim kemarau maka penduduk lokal yang daerahnya dialiri sungai akan menggunakan jalan air yang telah mengering untuk berkebun. Hal inilah menyebabkan hampir disebahagian besar desa desa kabupaten Sigi dan beberapa wilayah kelurahan di Kota Palu memiliki bungi.

Bungi sangat dekat dengan sistem kehidupan sosial masyarakat kaili. Mulai dari sistem pertanian,kekerabatan sampai pada kebudayaan, dimana masyarakat kaili mempunyai ritual yang sangat bergantung pada aliran sungai seperti no ra keke,no ra binangga pompaura dan lain lain. Kenyataan terhadap dekatnya keberadaan bungi dengan pola hidup masyarakat lokal kemudian mengilhami gagasan pelaksanaan “Festival Bunyi Bungi”. Dalam festival ini, bungi akan menjadi sebuah titik awal penciptaan dari karya karya yang akan di presentasikan dalam Festival Bunyi Bungi. Bungi akan menginspirasi pengkarya dan sebaliknya pengkarya akan mengapresiasi segala sesuatu yang berhubungan dengan bungi. Tidak hanya sisi kebendaan atau fisik dari bungi tapi segala bentuk peristiwa yang kemudian menjadi ciri maupun kebudayaan masyarakat sekitar bungi tersebut.

Dalam Festival bunyi bungi tidak ada batasan tafsir terhadap bungi. Bentuk pertunjukan yang lahir dari hasil interpretasi tersebut pun diharapkan terbebas dari patok patok yang kadang mengikat ketika kita hendak melakukan eksperimen apapun terhadap segala peristiwa yang bersangkutan dengan bungi.

Barangkali ini dulu yang bisa saya deskripsikan terhadap gagasan awal penyelenggaraan Festival Bunyi Bungi. Semoga gagasan ini mampu menjadi media untuk mengeksekusi mimpi atas kondisi kami di tanah Sigi sekaligus geliat seninya kedepan. Kami yakin, dengan menyaksikan parade ekspresi dari kawan kawan penyaji akan menjadi media pembelajaran terhadap kekayaan metode penggarapan karya seni. Salam Budaya,Salam Kreatif !!!

IMG_7829

Founder & Artistic Directer FBB,

Izat Gunawan.

lihat juga link lainnya ttg FBB

http://www.stepmagz.com/2013/02/festival-bunyi-bungi/

http://icheenn.blogspot.com/2013/01/festival-bunyi-bungi-2013.html

http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1361018430/festival-rano-bungi-bunyi

http://beritapalu.com/category/2-seni-budaya.html

http://beritapalu.com/category/2-seni-budaya.html

http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1361018422/festival-rano-bungi-bunyi

HURU – HA – RAEGO (konsep musikal)

HURU-HA-RAEGO

Komposer : Izat Gunawan

I
Pada Bagian awalnya garapan ini ingin menunjukan luapan,letupan,dentuman,gesekan,serta pikiran pikiran dangkal yang saling berhantam-hantaman melalui prosesi bunyi dan benda-benda.
Sampai kemudian semua kita tersadar bahwa Tanah dan tetumbuhan diatasnya sungguh telah mengajarkan dengan sangat sabar persoalan harmoni, kebersamaan serta kearifan.

II
Syair syair Raego dalam ritual Vunja / panen suku kaili banyak mengandung ungkapan yang mempunyai muatan dan penghargaan terhadap alam beserta isinya. Seiring dengan hal itu aristoteles menyeimbangkannya dengan ungkapan bahwa musik adalah sesuatu yang mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah,mempunyai terapi rekreatif,dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Garapan ini kemudian berusaha menyerap spirit dalam belajar menjaga keberlangsungan hidup antar sesama manusia melalui alam raya dimana terdapat juga bagian Simbol-simbol yang diwujudkan kedalam kutukan terhadap tindakan-tindakan manusia yang merusak tata ritmik antara manusia dan lingkungannya .
Dari semua itu akhirnya menciptakan bunyi-bunyi yang mengandung makna bahwa manusia harus peduli terhadap proses mewujudkan keseimbangan dan kedamaian hidup.

TALUSI SIGI

TORALIYU oleh TALUSI, SIGI MULTIMEDIA

Talusi Sigi Multimedia adalah sebuah komunitas multimedia di Kabupaten Sigi yang mulai terlihat aktif pada bidang Film,Foto,design,publishing dll. Komunitas ini didirikan oleh kawan-kawan pekerja seni di Kabupaten Sigi yang berasal dari beberapa komunitas seni yang berbeda seperti komunitas Gampiri Potoya,Buvu Sopi Kota Pulu,Linosidiru Tanambulava,Madani Biromaru,Kaluku ntovea Kaluku Bula dan beberapa individu pekerja serta pemerhati Seni Kabupaten Sigi yang juga berasal dari latar belakang seni yang beragam pula.

Karya Perdana Kawan-kawan Talusi mereka garap ketika mendapat kepercayaan dari pihak pemerintah daerah kabupaten Sigi untuk menggarap sebuah profil Dokumenter pariwisata yang ada di kabupaten Sigi. Karya Berdurasi setengah jam lebih ini mereka beri judul TORALIYU (Toro,Bora,Lindu,Vayu)dan rencananya film ini akan di launching pada pelaksanaan Festival Danau Lindu 3 Juni 2012 mendatang. Pada dasarnya TORALIYU berisi informasi potensi Pariwisata yang terdapat pada empat wilayah tersebut yaitu,ngata Toro,Bora,Lindu serta Vayu),perjalanan seorang Jurnalis pada 4 wilayah ini menjadi Alur Besar cerita sekaligus sebagai benang merah dari setiap adegan ke adegan.

Susunan Tim Produksi TORALIYU

1. SUPERVISIOR
– Hariman Jaya

2. MANAGER PROGRAM
– Izat Gunawan

3. SUTRADARA
– Hendra D.P

4. PENYUSUN SCRIPT
– M.Rum,S.S
– M.Nawir Dg Mangala,S.E

5. DIRECT OF PHOTOGRAPHY
– Akbar Dian,S.Sos

6. KAMERAMEN
– Iphonk Lamalata
– Fandi,S.Pd

7. EDITOR
– Even

8. ARTISTIK & LIGHTING
– Wanhar

9. AKTRIS
– Ian Podung

10. ILUSTRASI MUSIK DAN THEME SONG
– S.S Linosidiruu

“NUR,TINGGALLAH DISINI”

KONSEP MUSIKAL “NUR,TINGGALLAH DISINI” , Komposer Izat Gunawan

Defenisi musik yang mendeskripsikan musik sebagai bunyi yang diterima oleh individu dengan berbagai macam perbedaan hal-hal yang tidak terlepas dari penciptaan sumber bunyi itu sendiri seperti peristiwa,lokasi, budaya bahkan selera menjadi sebuah rel besar ketika menafsir kembali konsep tradisi dalam penciptaan karya musik “NUR,TINGGALLAH DISINI !”
Nyanyian Rakyat pada etnis kaili (origin & mayoritas di wilayah sulawesi tengah) yang berada di daerah-daerah pesisir disebut Dade Ndate. Dade Ndate pada dasarnya telah mengenalkan kepada masyarakat kaili sebuah sistem komunikasi tradisional yang memanfaatkan media kesenian baik sebagai pembawa berita maupun sebagai media hiburan. Nyanyian rakyat dade ndate merupakan gambaran keinginan dan aspirasi rakyat melaui syair-syair lagu dan sangat komunikatif serta adiptif pada situasi kekinian, Nyayian tersebut memuat beberapa realitas sosial – kultural yang menarik untuk diwacanakan karena merupakan tradisi lisan yang sangat kontekstual diera – kontemporer ini.

Dade ndate & Nur,Tinggallah Disini !

Krisis listrik

Krisis Listrik yang dialami wilayah sulawesi tengah selalu saja menjadi masalah yang terus menerus harus dirasakan oleh masyarakatnya. Masalah-masalah tekhnis pengoperasian perangkat kerja,mesin bekas dan seterusnya juga selalu menjadi alasan pihak terkait untuk merasionalkan pemadaman bergilir maupun tidak bergilir, direncanakan maupun tiba-tiba yang hingga saat ini masih saja terjadi.
Maka “Mati Lampu” menjadi hal lumrah yang sangat menjengkelkan!!!
Kami membutuhkan cahaya dan sumber energi listrik untuk melangsungkan kegiatan dalam rangka memenuhi berbagai macam tuntutan hidup.

 

 

Menyuarakan kegelisahan itu

Sebagaimana sifat dade ndate yang kontekstual itu,Linosidiru kemudian menuangkan pendekatan bunyi garapan kali ini pada nanyian rakyat tersebut. Dalam “dade ndate kami” inilah kami menyiratkan betapa besar keinginan kami untuk memiliki nur yang tidak padam-padam lagi,nur yang tidak akan pernah beranjak dari tanah kami.

Salam Budaya

PERTUNJUKKAN MUSIK HURU HA RAEGO (pengantar)

Pertunjukan Musik “Huru-Ha-Raego”

Komposer: Izat Gunawan (Sulawesi Tengah)
Peraih Hibah Seni Kelola 2012 – Kategori Karya Inovatif

Pertunjukan I
Hari/Tanggal: Selasa, 4 September 2012
Tempat: Kebun Seni SS Buvusopi
Alamat: Kampung Cermin Desa Kotapulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Jam: 20.00 WITA

Pertunjukan II
Hari/Tanggal: Sabtu, 8 September 2012
Tempat: Pasar Baru desa Sibalaya Utara
Alamat: Jl Poros Palu-Kulawi Km 30, Tanambulava, Sulawesi Tengah.
Jam: 20.00 WITA

Acara Pendukung:
Dialog Budaya “Seni, Tradisi, dan Pemuda Sigi”
Hari/Tanggal: Kamis, 6 September 2012
Tempat: Gedung Seba Guna, Dolo
Alamat: Jl Palu Kulawi KM 12, Sigi, Sulawesi Tengah
Jam: 09.00 WITA

Kegelisahan Izat Gunawan menjadi pendatang di sebuah daerah konflik menginspirasi “Huru-Ha-Raego”. Judul karya ini menunjukkan kombinasi kata dari kata “huru-ha”, hubungannya dengan konfrontasi yang terjadi, dengan kata tradisional, “raego”, yang berarti ritual panen/penyambutan rombangan perang.

Karya ini tidak bermaksud merayakan konflik, tapi justru ingin mengalihkan kekuatan “perang” yang besar; letupan, dentuman, gesekan, menjadi sebuah enerji untuk menciptakan bunyi. Izat mengambil bunyi suara ketukan di tiang listrik, teriakan kemarahan orang, laju mobil dan motor yang kuat untuk digarap kembali dan ditampilkan secara live.

Pertunjukan berdurasi satu jam ini menampilkan peran ganda penampil sebagai musisi dan juga aktor di atas panggung. Dengan kostum beraneka warna, mereka memainkan musik dengan elemen-elemen dramaturgi teater, seni yang juga dicintai komposernya.

Program Hibah Seni Kelola didanai oleh: First State Investments Indonesia & Hivos.

 

Menanggapi kebutuhan pendanaan untuk seni pertunjukan, Hibah Seni Kelola menawarkan dana produksi untuk seniman perorangan maupun kelompok kesenian untuk mewujudkan karya seni pertunjukan.

Bersama Kelola, mari kita buka peluang belajar dan berkarya bagi pelaku seni dan budaya Indonesia. Agar semangat dan daya cipta anak bangsa yang menumbuhkan kebanggaan akan keaneka ragaman seni dan budaya nusantara dapat terus berlanjut, wujudkan kepedulian Anda dengan sumbangan yang nyata.

Dukungan Anda, dengan hadir dan menyaksikan pertunjukan ini akan besar artinya bagi kesenian Indonesia.

Kelola l Jl. Abdul Madjid No. 44R, Cipete Selatan, Jakarta 12410 – INDONESIA
T.+62.21.759.04699 F. +62.21.766.1966 l Website: http://www.kelola.or.id l Facebook: http://www.facebook.com/kelola.or.id l Twitter: @YayasanKelola

http://www.kelola.or.id/news/detail/?id=296

POMPANGOYA, SEBUAH WARISAN YANG MAHAL

Vayu adalah sebuah desa yang terletak Pada ketinggian 820m diatas permukaan laut di Pegunungan sebelah barat Kabupaten Sigi,yang secara administratif saat ini berada dalam wilayah kecamatan Maravola Barat. Dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah,Jarak menuju Vayu sekitar 15 km. Dulunya, jalur menuju Desa Vayu ini banyak dugunakan kelompok-kelompok pencinta alam sebagai jalur tracking menuju area camping ground di Sekitar desa Vayu sampai ke desa matantimali,karena itulah dalam perjalanan menuju vayu saya memutuskan  untuk berjalan kaki dari desa porame,ibu kota kecamatan Kinovaro yang berjarak 7 km dari Vayu. Jalan yang saya lewati adalah jalan menanjak melewati banyak belukar dan pepohonan sepanjang jalan, Pegunungan sebelah barat Kabupaten sigi terbilang cukup Tinggi,bahkan masih ditengah perjalanan,hampir seluruh kota palu dapat terlihat dengan mata telanjang,sesekali saya berhenti untuk menyaksikan pemandangan yang indah dari atas sini. Pada Siang hari ternyata udara di Pegunungan ini  jauh lebih panas dibanding,gunung-gunung yang saya kunjungi sebelumnya. Tapi saya yakin,persaan lelah ini akan terbayar ketika sampai di Vayu saat menyaksikan seluruh hamparan kota palu dari atas sana.

Desa Vayu, Seperti umumnya desa-desa lain yang berada di wilayah kecamatan marawola barat dan kinovaro memiliki penduduk asli yaitu sub etnis Da’a yang termasuk dalam salah satu etnis kaili sebagai penduduk mayoritas Kabupaten Sigi.

Luas Desa vayu yang berukuran  9km² dihuni oleh  112 KK dengan total jumlah sebanyak 341 jiwa, Terdapat 184 orang laki-laki dan 157 perempuan.

Masyarakat Desa Vayu pada umumnya berprofesi sebagai petani ladang dan berkebun. Jagung,Kemiri,Kakao,alpokat,langsat,cengkeh dan durian menjadi pilihan masyarakat desa Vayu untuk ditanam di ladang maupun kebun mereka.

 

Objek yang terkenal di Desa Vayu ini adalah wisata dirgantara Paralayang. Lokasi ini oleh penduduk lokal diberi nama pompangoya atau tempat peristirahatan orang-orang tua mereka dulunya ketika lelah berternak maupun berladang,di pompangoya inilah mereka beristirahat sambil menikmati lautdan lembah dari ketinggian.

Kebetulan perjalanan saya hari ini di temani oleh sebuah kelompok paralayang yang sedang berlatih di Vayu, Paralayang Maleo. Itulah Nama Kelompok Paralayang mereka, diketuai oleh seorang Paraglider senior bernama Gunawan, Mas gunawan ini telah menekuni olahraga dirgantara ini sejak tahun 1999. (wawncara perkenalan dengan gunawan).

Semenjak dijadikan arena paralayang, telah digelar beberapa event nasional cabang paralayang di Desa Vayu, yaitu Prapon dan Pon tahun 2008 dan kejurnas pada juni 2011.

Vayu yang terletak pada ketinggian 820 m diatas permukaan laut Memang Banyak memberikan keuntungan bagi para pencinta paralayang , diantaranya lokasi take off yang mudah dijangkau dengan kendaraan roda 4. Lokasi yang berhadapan persis dengan lembah dan teluk palu menawarkan pemandangan yang luar biasa indah, dan yang paling penting bahwa posisi Vayu secara geografis menjadikan angin yang menghantam lereng gunung menjadi turbulensi (gelombang air) yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian. Hal selanjutnya yang terbilang cukup penting yang dibutuhkan para paraglider adalah sumber kekuatan atau daya untuk mengangkat,yaitu gelembung panas bumi, dan ternyata cuaca di desa vayu memang didominasi oleh panas yang menyebabkan thermal cuaca.  Wajarlah jika para paradigler internasional berpendapat bahwa desa vayu adalah salah lokasi paralayang terbaik dunia.

Setelah wawancara,ternyata teman-teman paralayang maleo juga mengajak saya untuk tandem merasakan sensasi olah raga dirgantara yang mnantang adrenalin ini,tapi menurut mas gun bahwa paralayang adalah olahrega dirgantara paling aman.Maka saya memutuskan untuk tandem bersama mas gunawan dan akan landing di desa porame wilayah kecamatan kinovaro.

Oh ya, maleo paralayang juga ternyata menawarkan paket-paket bagi para pengunjung yang ingin menguji nyalinya untuk terbang. 5 juta untuk 1 paket. Terdiri dari 5 orang selama 5 hari berturut turut, semua ongkos transpor pulang pergi dari hotel menuju lokasi menjadi tanggungan maleo paralayang. Kalau dihitung-hitung lagi, harga itu cukup masuk akal.

Begitulah sekilas perjalanan saya di Desa vayu ketika mengunjungi objek Paralayang disana.Menarik. Kabupaten ini memang menyimpan banyak kekayaan yang beragam.

SHOW OF ROMU DEA

*Pertunjukan ini adalah kolaborasi Beberapa komunitas Seni di wilayah kec Dolo Barat dan Kinovaro Kab Sigi bersama Komunitas Masyarakat adat Da’a Desa Balane

berikut deskripsinya :

ROMU DEA

Romu Dea, harfiahnya berkumpul bersama sama dalam jumlah banyak atau dalam defenisi kerakyatannya adalah berkumpulnya masyarakat beserta tokoh-tokoh nya guna melaksanakan suatu kegiatan dalam komunitas mereka.

Pertunjukkan ini diilhami dari sebuah bentuk kearifan lokal masyarakat adat rumpun Da’a dalam menjalin serta menjaga hubungan kekerabatan dan persaudaraan lewat kegiatan-kegiatan kebudayaan yang diwariskan oleh leluhurnya. Mondou yang mereka laksanakan setiap tahun hingga sekarang merupakan deskripsi yang begitu jelas terhadap pengimplimentasian dari esensi kebersamaan,silaturahmi dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Ritual ini kemudian menjadi pijakan bagi proses penggarapan tari,musik dan lagu dalam pertunjukkan Romu Dea ini.

TENTANG MONDOU

Ketika meninjau pola dasar dan pencirian terhadap sebuah bentuk kebudayaan maka pengklasifikasian Mondou akan sangat kuat untuk dikategorikan kedalam jenis sastra lisan. Dalam proses ekspresi serta penyampaiannya, masyarakat adat rumpun Da’a kemudian membawakan syair-syair ndou ini lewat sebuah media nyanyian tradisi yang mengandung “rasa pentatonik” sangat kental sekaligus memiliki pola yang berulang-ulang dengan dua tekhnik penjabaran vokal yaitu koor dan solo vokal ,kedua-duanya memiliki peran yang sama saat menyajikan bentuk melodi dalam setiap pengulangan polanya.

Masyarakat adat rumpun Da’a di Kecamatan Kinovaro kerap kali menggunakan ndou dalam berbagai jenis ritual karena mereka meyakini bahwa dengan melantunkan ndou akan mengundang anitu atau arwah para nenek moyang dalam setiap kegiatan yang mereka langsungkan secara adat tersebut.

Pada masa ratusan tahun sebelum era penjajahan, mondou ini adalah kegiatan yang wajib dilakukan pada saat orang-orang Da’a hendak turun ke medan perang. Mereka menghadirkan roh roh leluhur  dan memintanya untuk melindungi mereka saat beradu nyawa dengan musuh. Sesuatu yang menarik dalam perkembangan fungsi mondou saat ini adalah ketika masyarakat Da’a pada satu sisi tetap mempertahankan kearifan lokal yang mereka warisi sementara pada sisi yang lain bahwa zaman sekarang tidak perlu lagi mereka saling berperang seperti masa-masa sebelumnya maka alih fungsi terhadap mondou yang sebelumnya di gunakan untuk pra perang,saat ini justru dilakukan untuk saling bersilaturahmi antar desa yang dulunya tergabung dalam salah satu kerajaan Da’a yang dikenal dengan nama kerajaan Vau,yaitu Desa Balane,Porame,Uwe manje,Padende dan Sibedi.

Kegiatan silaturahmi setiap tahun ini mereka lakoni kurang lebih sudah sejak 167 tahun yang lalu (1844 sampai sekarang),dan moment silaturahmi ini mereka rangkaikan dengan ulang tahun bantaya Romu Dea desa Balane setiap tanggal 24 maret.

INDOKU BUMI UMAKU LANGI (lagu)

Musik :

pendekatan bunyi dalam garapan lagu ini banyak mengembangkan notasi-notasi dari instrument tiup lalove, dimana memang ditemukan bahwa banyak kedekatan secara melodik antara notasi lalove dan irama yang dihasilkan oleh vokal-vokal ndou.

Syair :

penggarapan teks pada lagu berdasar pada beberapa syair-syair tua yang dimiliki oleh masyarakat Da’a serta melakukan interpretasi kekinian terhadap syair-syair asli tersebut untuk di kolaborasi kembali sebagai teks lagu.

Teks  Lagu :

Indoku Bumi Umaku Langi

Riara Katuvua Kita Santina Santuama

Ne’e Ra Kalingasi Kabotu Tesa Mposarara

Moga’a pa Bula Nu Mata Nte Vurina

Pade Moga’a Posampesuvuta

Kaluku Sangu Mbo Santonga

Loka Sangu Mbo Sanggoto

TARI NDOU

Tari ini pada awalnya menggambarkan kegiatan keseharian masyarakat Da’a Kecamatan Kinovaro yang sebagian besarnya menjalani kehidupan masyarakat agraris yang tradisional. Dari kehidupan sehari-hari mereka inilah kemudian banyak bentuk tradisi yang lahir, baik sebagai kebiasaan keseharian yang bersifat biasa saja maupun sebagai bentuk ritual yang mereka sakralkan seperti raego ,rano,vadi, Ndou dll.

Tafsiran ritual Mondou kedalam koreo tari Kreasi Ndou secara tematik,oleh koreografer lebih diarahkan pendekatannya kepada ritual keselamatan atas tanah tempat mereka bercocok tanam. Terdapat dua alur besar dari pemaknaan tari yang ingin disampaikan, konten pertama bahwa esensi ndou yang disimbolkan sebagai orang-orangan sawah dalam rangka pendeskripsian terhadap kebiasaan bertani dan berkebun yang memang telah menjadi ciri masyarakat Da’a yang menghuni lereng lereng gunung sebelah barat kab Sigi. Konten selanjutnya dari interpretasi tema yang dilakukan koreografer adalah sebuah replikasi tekhnis terhadap pelaksanaan ritual Mondou (dalam rangka panen) mulai dari membunyikan gendang untuk mengumpulkan orang-orang di bantaya sampai pada penggambaran wujud kesyukuran mereka atas hasil bumi yang mereka dapatkan.

Prosesi bertani dan berkebun secara tradisional yang masih dilakoni masyarakat Da’a di Kec Kinovaro ini semuanya dilakukan secara kolektif dan mengutamakan prinsip-prinsip kebersamaan.

PEVUNU

  •  Desa Pewunu Kecamatan Dolo Barat. Narasumber Zabir Dg Pawindu.
  • Narasumber banyak mengungkapkan beberapa cerita sejarah masa perjuangan & kemerdekaan.
  • Dg pawindu merupakan salah satu tokoh perintis kemerdekaan di provinsi sulawesi tengah pada masa-masa menjelang kemerdekaan republik Indonesia. Selain Dg Pawindu yang berasal dari pewunu ada juga P.Marhum dari buol dan Toana. 3 tokoh ini menurut narasumber adalah tokoh pejuang kemerdekaan yang hampir terlupakan. Narasumber  tidak pernah menulis hal ini ke publik atau membicarakannnya secara formal di depan umum karena masih merupakan turunan langsung Dg Pawindu,jika dia menuliskan informasi ini kemudian mempublikasikannya tentu saja akan meninggalkan kesan bahwa cerita narasumber ini sangat objektif (meneitikberatkan sejarah perjuangan kemerdekaan sebuah wilayah dengan sebuah klan keluarga) meskipun hal ini adalah realita menurut beliau.
  • Dg Pawindu adalah adalah ketua laskar merah putih sulawesi tengah.pada tahun 1928 – 1930 Dg Pawindu di asingkan belanda ke Nusa Kambangan,kemudian pada tahun 1931 – 1933 dipindahkan oleh belanda ke sukamiskin jawa barat,di sukamiskin inilah beliau bertemu dengan bung Karno dan banyak berdiskusi dengan presiden RI yang juga menjadi tapol belanda saat itu di sukamiskin. Selama zaman penjajahan Dg Pawindu telah keluar masuk tahanan jepang maupun belanda sebanyak 37 kali.
  • Laskar merah putih sulawesi tengah bertempat di daerah bambaru ngata pewunu,menurut narasumber hal inilah yang mempengaruhi penamaan sebuah pasar rakyat pertama di kota Palu dan kemudian nama Dg Pawindu diabadikan menjadi sebuah jalan tepat di barat pasar tersebut.
  • Pertemuan beliau keduakalinya dengan presiden soekarno pada tahun 1957 ketika soekarno melakukan kunjungan ke sulawesi tengah.tahun 1917 Dg Pawindu bertemu cokroaminoto di palu dalam rangka peresmian SI (Serikat Islam) Sulawesi Tengah.
  • Pada tahun 1963 narasumber  pernah melakukan berkunjung ke nusakambangan dan mendapati nama Dg Pawindu memang tercatat dalam buku induk tahanan nusakambangan sebagai tahanan pada masa penjajahan.
  • Narasumber merekomendasikan sebuah buku sejarah lokal yang berjudul sejarah perjuangan tanah kaili karya Djaruddin Abdullah.karena beliau menganggap ini adalah sebuah buku yang menuliskan fakta perjuangan masyarakat kaili dimasa penjajahan.

  •  Narasumber Masukara / To I Hata/ Totua ada majelis adat Kecamatan Dolo Barat. Totua ngata pewunu.
  • To Po Ende merupakan masyarakat asli yang menghuni ngata pewunu untuk pertamakalinya,to po ende berasal dari bulunjilalalaki. Saat ini topoende tidak ada penutur lagi, telah habis suku aslinya. Menurut salah seorang yang masih memiliki darah turunan topoende (kebetulan istri narasumber) memang topoende ini tidak pernah jumlah mereka bisa lebih dari 70 orang, jika ada seorang yang lahir dan hitungan jumlah topoende menjadi 71 orang maka salah seorang dapat dipastikan akan meninggal. Hal ini kemudian menurut narasumber, banyak orang mengaitkan bahwa kehidupan topoende saperti  sebuah rumpun bolovatu (bambu) di vaturalele yang dalam serumpunnya hanya ada tujuh batang,jika ada lagi bambu yang hendak tumbuh maka akan ada sebatang bambu yang akan mati. Setelah berasimilasi dengan masyarakat lembah maka topoende asli lama-kelaman  hilang dan tidak memiliki darah topoende asli lagi. Sehingga yang dijumpai saat ini hanya keturunan2 (bija) mereka dari hasil kawin silang dengan suku-suku lain. Konon topoende ini memiliki watak yang sangat keras dan kejam,hal ini menyebabkan mereka memiliki musuh dimana-mana,baik dengan ngata tetangga maupun suku-suku dilereng gunung. Kondisi ini kemudian membuat topoende akhirnya memberlakukan semacam strategi untuk mengurangi musuh mereka yang semakin banyak itu, strategi ini disebut “nebolai besi” mengawinkan anak-anak wanita pimpinan mereka dengan anak raja atau raja didaerah-daerah musuh . hal ini kemudian menjadikan topoende dengan musuh-musuhnya menjadi saudara dekat,bahkan hingga hari ini narasumber menyebutkan mereka mempunyai keluarga besar dimana-mana.
  • Pemakaian siga (destar) juga memiliki simbol pada masyrakat adat dolo barat. Jika ia seorang totua ada maka ikatan siganya ke arah kiri, jika dia raja / maradika maka ikatan siga ke arah kanan dan jika siga yang dipakai tidak memiliki arah ikatan yang miring ke kiri atau kanan melainkan hanya sekedar membungkus kepala kemudian pada bagian tengahnya dimunculkan sedikit sisa ikatan (ada kesan seperti blangkon namun tidak terlalu panjang ujung siga yang dimunculkan itu serta tidak ada simpul ikatan di bagian belakang yang menonjol) maka jenis ikatan ini merupakan sembol masyarakat adat biasa.